Halaman

Slide # 1
Slide # 2
Slide # 3

Monday, June 22, 2020

Karya Terbaik 3 Training and Writing Project #1


PENTINGNYA SELF AWARENESS SISWA DALAM BELAJAR
Karya Dania Noviyla

Pendidikan dapat dipandang sebagai pengubahan tingkah laku dan kemampuan seseorang menuju ke arah kemajuan dan peningkatan. Pendidikan juga dapat mengubah pola pikir seseorang untuk selalu melakukan inovasi dan perbaikan dalam segala aspek kehidupan ke arah peningkatan kualitas diri. Di sekolah, tujuan pembelajaran yaitu pembelajaran yang menggiring siswa memiliki kemampuan berpikir obyektif, kritis, cermat, analitis dan logis. Salah satu aspek psikologis dalam pembelajaran adalah kesadaran diri yang merupakan suatu kondisi atau pondasi awal yang diperlukan sebelum memulai proses pemahaman terhadap orang lain atau disebut self awareness. Berdasarkan realita yang dapat kita lihat banyak siswa menunjukkan perilaku suka mengobrol di kelas, tidak mengumpulkan tugas, berada di luar kelas saat pembelajaran, melanggar tata tertib dan menggunakan waktu luang mereka untuk bermain. Dapat dilihat bahwa siswa belum sadar bahwa kewajibannya sebagai siswa adalah belajar.
Self awareness perlu dimiliki seorang siswa dalam pembelajaran agar siswa menyadari apa yang harus dilakukannya selama proses pembelajaran. Seseorang yang memiliki kesadaran diri yang baik dapat mengendalikan emosi dirinya sendiri, dan mengontrol kelemahan dan kekurangan diri serta mengenali diri sendiri  secara mendalam. Kesadaran diri sangatlah penting, dengan memahami diri sendiri kita akan mendapatkan banyak hal – hal positif bagi diri kita sendiri, dan juga kita dapat mengontrol diri kita agar kita dapat bekerja bersama dengan orang lain secara efektif.
Self Awareness salah satu aspek kepribadian yang sangat penting di dalam kehidupan seseorang. Dengan adanya kesadaran diri dalam seorang siswa akan meningkatkan motivasi dan semangat siswa dalam belajar, hal itu dapat berdampak positif dimana akan meningkatkan nilai – nilai pendidikan. Menurut Nu’man, (2019 : 52) Self Awareness juga merupakan salah satu atribut dasar dari aspek Emotional Intelligence dan juga merupakan salah satu kunci utama dalam meraih sukses di dalam segala hal.
Self awareness yaitu mengetahui apa yang sedang kita rasakan dan menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusan diri sendiri, memiliki tolok ukur yang realistis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat. Seseorang dikatakan memiliki kesadaran diri jika dia mampu memahami emosi yang sedang dirasakan, kritis terhadap informasi mengenai diri sendiri, dan sadar tentang diri sendiri secara nyata. Secara singkat, kesadaran diri dapat diartikan sebagai suatu sikap sadar seseorang mengenai pikiran, perasaan, dan evaluasi diri yang ada dalam dirinya sendiri(Goleman, 2004:3).
Penting bagi seorang siswa untuk memiliki kesadaran diri sebagai seseorang siswa. Dengan adanya kesadaran diri seorang siswa mampu mengendalikan emosionalnya, mampu memilih hal – hal yang terbaik untuk dirinya sendiri, dengan begitu jika siswa di Indonesia memiliki kesadaran diri yang tinggi sebagai siswa, pendidikan di Indonesia akan meningkat dengan baik dan dapat memajukan pendidikan di Indonesia.

Daftar Pustaka
Goleman, Daniel. 2004. Emotional Intelligence. Jakarta: Gramedia Pustaka Umum
Nu’man, Mulin.2019. Self Awareness Siswa Madrasah Aliyah dalam Pembelajaran Matematika. Jurnal Pengembangan Pembelajaran Matematika (JPPM) /Vol I.



TENTANG PENULIS

Nama                           : Dania Noviyla
NIM                            : RRA1C217002
Fakultas                       : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Program Studi             : Pendidikan Ekonomi
EXISTER                    : 2017






Karya Terbaik 2 Training and Writing Project #1


OPTIMALISASI ZISWAF SEBAGAI UPAYA MENGATASI PERMASALAHAN EKONOMI DI TENGAH PANDEMI COVID-19 DI INDONESIA
Karya Fauziah Chairiyati

Indonesia memiliki penduduk sebanyak 255.461.700 jiwa pada tahun 2015, (BPS, 2016) dan menduduki posisi pertama sebagai penduduk muslim terbesar di dunia mencapai 87.21% pada tahun 2013 (Kemenag, 2013), sehingga potensi zakat, infaq, sedekah dan waqaf yang besar sehingga diyakini dapat membantu mengatsi permasalahan ekonomi Indonesia ditengah pandemi Covid-19 ini.
Zakat merupakan bagian dari harta dengan persyaratan tertentu yang diwajibkan Allah SWT kepada pemiliknya untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu. zakat dibagi menjadi dua yakni zakat maal dan zakat fitrah. Berdasarkan penelitian Baznas, Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Islamic Development Bank (IDB) dikatakan bahwa potensi zakat nasional sebesar Rp.217 triliun (Firdaus dkk, 2012). Sehingga dengan adanya kewajiban membayar zakat maal/harta yang telah terpenuhi nisab dan haulnya maka wajib dikeluarkan, dan dapat disalurkan kepada saudara kita yang membutuhkan terutama kepada masyarakat kecil yang terkena dampak virus corona ini. Selain itu zakat fitrah berupa beras yang akan kita tunaikan di bulan ramadhan, akan sangat membantu saudara kita yang tidak dapat bekerja dan memenuhi kebutuhan hidupnya selama pandemi covid19 ini.
Kedua, Infaq yaitu mengeluarkan harta yang pokok (uang atau barang). Ditengah pandemi covid-19 ini, semua serba kekurangan terutama masyarakat kecil bekerja di sektor informal yang tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok/makanan bahkan membeli masker, hand sanitizer dan dis-infektan untuk perlindungan diri pribadi. Oleh karena itu, peranan infaq dari saudara kita sangat dibutuhkan dalam mengatasi permasalahan ini, karena jika hanya mengandalkan negara maka tidak akan terjangkau seluruhnya. Sehingga dibutuhkan kerja sama dan tolong-menolong antar sesama umat manusia agar kita dapat cepat melewati masa-masa sulit ini bersama.
Ketiga, sedekah yang berasal dari kata sidq (sidiq) “kebenaran”. Menurut peraturan BAZNAS No.2 tahun 2016, sedekah berupa harta atau non harta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum. Dalam kondisi maraknya covid-19 saat ini, perlunya rasa kepedulian antar sesama masyarakat guna mencegah penularan wabah ini. Sedekah dalam hal ini dapat berupa bantuan tenaga/volunteer yang bersedia membantu aparat pemerintah, tenaga kesehatan/ tenaga bantu medis sebagai garda terdepan dalam menangani wabah serta relawan yang membantu melakukan penyemprotan disinfektan di daerah sekitar, dengan begitu bantuan berupa tenaga dapat tersalurkan guna pencegahan penularan wabah covid-19.
Keempat, wakaf menurut UU wakaf Nomor 41 Tahun 2004 “perbuatan hukum wakif (pihak yang berwakaf) untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum sesuai syariah. Di tengah maraknya wabah covid-19, yang setiap harinya bertambah ratusan kasus baru dan angka kematian. Hal tersebut berdampak pada kurangnya tempat untuk penanganan pasien guna isolasi dan pemakaman. Pengalih fungsian beberapa tempat seperti penginapan dialih fungsikan untuk menampung masyarakat yang terjangkit wabah covid-19. Sehingga dapat meminimalisasi dampak penularan kepada orang lain. dan menghindari penolakan jenazah Covid-19, karena tak sedikit dari masyarakat desa asal penderita menolak untuk menerima jasad pasien covid, sehingga dengan pemberian wakaf tanah untuk lahan pemakaman sangat dibutuhkan saat ini.
Oleh karena Itu, melalui pemberdayaan dana umat melalui zakat, infaq, sedekah dan waqaf (ZISWAF) yang diikuti kesadaran dan saling tolong-menolong diantara kita, sehingga permasalahan sulit ini akan mudah dilewati, karena seluruh lapisan masyarakat berperan aktif melawan Covid-19.
~We are in this together, we will get through it together and let’s finish it together~

Sumber Referensi
BPS. 2016. Statistik Indonesia 2016. Jakarta: BPS
Kemenag. 2013. Kementerian Agama dalam Angka Tahun 2013. Kementerian Agama
Firdaus, Muhammad, Beik, Irfan Syauqi, Irawan, Toni, Juanda, Bambang . 2012. “Economic Estimation and Determinations of Zakat Potential in Indonesia”. IRTI Working Paper Series No. 1433-07. Jeddah: IRTI
Sedekah.Baznas.go.id
Zakat.or.id


TENTANG PENULIS

Nama                                       : Fauziah Chairiyati
NIM                                         : C1F018013
Fakultas                                   : Ekonomi dan Bisnis
Program Studi             `           : Ekonomi Islam
EXISTER                                 : 2018

Karya Terbaik 1 Training and Writing Project #1


APAKAH DUNIA HANYA BUTUH ILMU KETEKNOLOGIAN ? 
Karya Bisma Aulia
   
Saat ini dunia sedang berduka, penyebaran virus yang cepat membuat perubahan kehidupan dalam sekejap. Komunikasi serta interaksi langsung, makan bersama, berkumpul bersama, rapat bersama, hingga beribadah berjamaah saat ini dibatasi. Pembatasan sosial tersebut bukan karena rakyat dikekang oleh beberapa oknum, tetapi, pembatasan tersebut dilakukan untuk mengekang penyebaran virus. Perubahan sosial yang terjadi memang sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari, terlebih rakyat Indonesia yang dikenal dengan ramah terhadap orang lain, saat ini harus saling menjaga dengan cara menghindari satu sama lain. Terlebih bulan suci Ramadhan saat ini yang biasanya silahturahmi di masjid ketika tarawih, atau meriahnya pasar bedug menjadi hal yang dirindukan saat ini. Pembatasan sosial tersebut memperkecil langkah masyarakat dan juga mengecil penyebaran virus saat ini. Dengan adanya pembatasan tersebut, mengalihkan kebiasaan masyarakat yang awalnya luring menjadi daring. 
Penggunaan teknologi seperti video conference, media sosial, hiburan/entertainment secara daring, dan sebagainya menjadi primadona saat #dirumahAja. Sebagai orang yang mempelajari ilmu dibidang teknologi, permintaan pasar dibidang tersebut tentu menjadi motivasi untuk terus belajar dan mencoba menganalisis bagaimana mereka dapat membuat ide untuk mempermudah masyarakat. Pada awalnya, hanya belajar dibidang tersebut membuat saya bangga bahwa jika saya lulus dengan gelar tersebut dapat menjadi primadona pula dipekerjaan. Tetapi, saya berpikir bahwa era ini tidak butuh hanya sebatas gelar S.Kom atau S.T dibidang informatika, alangkah baiknya jika gelar tersebut didukung kemampuan dalam bidang tersebut. Karena banyak lulusan dibidang ini gagal, karena mereka tidak dapat menguasai kemampuan dibidang tersebut. Padahal mereka telah menghabiskan masa emas mereka untuk belajar dibidang tersebut. Menjadi programmer adalah pekerjaan keren yang notebenenya adalah mampu membuat inovasi terbaru dibidnag teknologi dan juga membantu manusia dalam memudahkan pekerjaan. Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini programmer dibutuhkan dibanding rumpun ilmu lain. Jadi, apakah jika tidak menguasai dunia programming membuat kita susah berjuang didunia ? atau apakah jika kita menguasai dunia programming membuat kita dapat menguasai dunia ?.
Sebelum pandemic ini melanda, saya beranggapan bahwa dunia ini sangat membutuhkan mereka yang mempelajari teknologi, tetapi saya menyadari bahwa didunia ini tidak sepenuhnya membutuhkan programmer. Dunia ini membutuhkan banyak rumpun ilmu, seperti ekonomi untuk menyelamatkan keuangan, dokter untuk mensejahterakan kesehatan manusia, hukum agar mampu mempertahankan keadilan dimuka bumi ini, dan sebagainya. Maka, dunia butuh mereka semua, mereka yang mampu mendedikasikan kehidupan mereka untuk kepentingan masyarakat banyak. Tentu menjadi programmer adalah pekerjaan yang keren, didalam benak orang, programmer adalah mereka yang hebat dibidang teknologi. Tetapi, kehadiran programmer saja tidak cukup, butuh mereka dengan ilmu yang berbeda yang dapat melengkapi teknologi tersebut. Bayangkan jika semua orang hanya kuliah atau bekerja dibidang teknologi, bagaimana jika wabah penyakit seperti ini menyerang lagi ?, memang benar dengan adanya teknologi dapat membantu, tetapi, dalam pembuatan dan proses penciptaan tersebut tentu butuh logika dari seorang dokter yang dapat membantu. Banyak berkembang asumsi bahwa di era revolusi industri ini dibutuhkan mereka yang bergelut dibidang teknologi agar tidak tergerus zaman. Kembali lagi dengan pernyataan saya diatas, apakah semuanya harus menggeluti bidang teknologi saja ?. Tentu saja jawabannya tidak. Meskipun saya lega bahwa ilmu saya akan berguna dibanyak bidang, tetapi tentu saja, tanpa mereka, orang-orang yang paham teknologi tersebut tidak akan dapat mengembangkan berbagai teknologi dibidang kesehatan, sosial, ataupun sebagainya. Maka, jangan lah pernah menganggap bahwa ilmu kita merupakan ilmu paling penting didunia ini. Semua ilmu penting, hanya saja, dalam perkembangannya dibutuhkan penguasaan teknologi dibidangnya. Memang tidak dapat dipungkiri lagi jika saat ini mengharuskan kita memahami penggunaan teknologi sederhana seperti email, media sosial, atau penggunaan seperti excel, Microsoft word, dan sebagainya.
Seperti kata orang, bahwa tidak ada yang sempurna didunia ini. Begitu pula dengan ilmu, didunia ini tidak dapat berkembang hanya dengan orang yang menguasai ilmu teknologi saja, butuh ilmu-ilmu lain yang membantu dalam mengembangkannya. Tanpa mereka yang paham akuntansi mungkin tidak ada software SAP, dan tanpa mereka yang paham ilmu kesehatan tidak mungkin aplikasi sejenis halodoc dapat berkembang. Maka, semua ilmu bermanfaat hanya saja tergantung pada individu masing-masing dalam mengembangkan ilmu tersebut. Apakah hanya mengandalkan ilmu itu saja tanpa penguasaan teknologi ?, atau hanya menjelajahi ilmu yang diberikan dosen saja, sehingga tidak berkembang ?, atau saya dan kalian yang menggeluti ilmu teknologi, hanya punya gelar tanpa skill bidang programming ?. Akhir kata, semua jawaban apakah dunia ini hanya butuh mereka dibidang keteknologian saja ada diusaha anda untuk dapat bertarung dengan kecerdasan buatan di Era Revolusi Industri 4.0 ini.

TENTANG PENULIS

Nama                           : Bisma Aulia
NIM                            : F1E118006
Fakultas                       : Sains dan Teknologi
Program Studi             : Sistem Informasi
EXISTER                    : 2018


Tuesday, November 7, 2017

Publikasi Hasil Karya UKM Riset dan Penalaran EXIST UNJA (Exist Online Library Volume 1)


Alhamdulillah Berkat Rahmat Allah yang maha Kuasa, departemen Public Relation dapat merilis hasil karya UKM RnP Exist UNJA..
berikut link download Publikasi Volume 1:
1. Public Relation Departemen _Soni Afriansyah (Paper)
2. Public Relation Departemen_Heri Naldi DKK (KTI)
3. Public Relation Departmen_2HeriNaldiDkk (KTI)
4. Public Realtion Departemen_EssaiHijrah (Essai)
5. Public Relation Departemen_IGS (Abstrak KTI)
6. Public Relation Departemen_Heri naldi Dkk (KTI)

Tuesday, May 2, 2017

PENDAFTARAN TRAINING AKADEMIK 2

UKM Riset dan Penalaran EXIST melalui departemen Human Research Development (HRD) membuka kesempatan seluas-luasnya untuk mahasiswa Universitas Jambi terutama angkatan 2014, 2015 dan 2016 yang telah Mengikuti Training Akademik 1 untuk lanjut ke sebuah agenda, yang akan memberikan anda ilmu tentang akademis dan exist lebih dalam serta merupakan agenda penjenjangan anggota UKM RISET DAN PENALARAN EXIST. Agenda ini kami beri nama Training Akademic 2 (TA 2). Agenda ini bersifat wajib serta sangat disarankan bagi exister yang telah mengikuti TA1.
Panduan PKM GT Disini 
Formulir PendaftaranDisini

Wednesday, April 26, 2017

JUARA I LOMBA KISAH INSPIRASI NASIONAL EXIST FAIR 2017



KEYAKINAN DAPAT MENGALAHKAN  SEGALANYA
(Kisah Nyata Berbuah  Semangat dan Inspirasi)

Karya : Anas Anwar Nasirin (Universotas Padjajaran)
Juara I Lomba Kisah Inspirasi Exist Fair 2017

            Kupandangi bintang dilangit timur, memberikan senyuman dengan kedipan-kedipan semangat. Sejenak aku terdiam mengikuti bayang-bayang yang membawaku ke alam bawah sadar, mengingat kembali memori-memori hidup yang penuh dengan perjuangan, harapan, cita-cita dan impian besar yang selalau aku katakan kepada bintang di timur sana, kabulkalah semua doaku ya Allah.
            Namaku Anas Anwar Nasirin, nama yang memiliki arti mulia “Manusia Cahaya Penolong”. Aku anak pertama dari tiga bersaudara, adiku yang pertama bernama Wawat Karwiti lahir  tahun 2001 dan adiku yang ke dua bernama Riyad lahir tahun 2005. Ayahku bekerja sebagai pedagang peci dan ibu bekerja sebagai buruh tani.  Aku sangat sayang kepada ayah dan ibu. Ayah orangnya pinter, disiplin dan dia selalu berpesan  agar aku sholat tepat waktu. Begitupun ibu, orang tersuper di dunia, selalu tegar, semangat, tegas dan sangat menyayangi aku.
            Dunia tidak terbatas tapi tidak abadi juga, saat bersyukurlah kebahagiaan besar yang aku dapatkan. Tahun 2005 adalah tahun yang sangat bersejarah, saat itu aku kelas II SD, Wawat berusia 4 tahun dan Riad masih dalam kandungan. Musibah besar menimpa keluargaku, kios tempat ayah berjualan kebakaran. Setelah peristiwa tersebut aku sering melihat ayah melamun bahkan ibu dan ayah sering bertengkar. Seringkali aku menangis saat terbayang pertengkaran ayah dan ibu, tanpa terasa saat menjelang tidur air mataku jatuh membasahi bantal. Beberapa hari setelah pertengkaran terjadi, ayah pamit akan pulang ke kampung halamannya untuk menenangkan pikiran dan mencari biaya lahiran adiku yang ketiga. Selama ayah pulang aku sangat kesushan, ibu tidak bisa kerja, Wawat sering rewel, hutang ke tetangga sangat banyak, seringkali aku makan di rumah tetangga karena di rumah ibu sering sakit-sakitan dan tidak punya beras.
Mendungnya awan disambut gelapnya malam, ditengah kondisi ibu hamil tua aku mendapatkan kabar ayah menderita gangguan jiwa. Mataku tak kuasa menahan tangis saat memandang ibu memeluk Wawat dan air mata membsahi pipinya. Sejak saat itulah hanya ibu seorang diri yang mengasuh, membiayai, dan merawat aku, Wawat dan Riad. Setelah ayah sakit aku jarang bertemu ayah karena ayah tinggal di Cibalong (Kampung halamannya) dan aku tidak memiliki biaya untuk menjenguknya. Sejak kelas III SD agar aku bisa  jajan dan sedikit bantu ibu, setiap pergi ke sekolah sambil jualan gorengan dan Es, walaupun upahnya tidak besar aku sangat bersyukur setidaknya bisa jajan seperti teman-temanku yang lainnya.
Empat tahun sudah ayah sakit dan kini Riyad sudah berusia 3,5 tahun begitupun aku sudah kelas VI SD dan sebentar lagi siap menjadi bagian dari OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). Hidup adalah perjuangan yang harus dimenangkan dan hidup adalah tantangan yang harus dihadapi. Keinginannku untuk melanjutkan sekolah ke tingkat SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) terhalangi karena ibu tidak sanggup dan tidak mumpunyai biaya untuk biaya kedepannya. Disisi lain guruku terus memberikan semangat agar aku melanjutkan sekolah bahkan aku akan dibelikan baju, tas, sepatu dan peralatan sekolah yang lainnya. Aku sangat semangat dan keinginanku sangat besar untuk melanjutkan sekolah ke tingkat SLTP, aku yakinkan diriku “tidak apa-apa ya Allah aku sekolah sampai SMP (Sekolah Menengah Pertama) yang penting  sekarang aku bisa sekolah SMP, aku berjanji ya Allah kalau aku bisa sekolah SMP aku akan belajar dengan maksimal dan aku akan berusaha agar bisa masuk rangking 3 besar”. Yang kedua kalinya aku yakinkan kepada ibu, aku benar-benar ingin sekolah SMP “Emak, aku tau hidup kita susah, tapi saya ingin sekolah SMP”  Emak sempat marah dan menyuruhku untuk kerja ke Bandung dan Jakarta seperti teman-temanku yang lainnya. Saat itu aku bingung “bagaimana caranya agar aku bisa sekolah SMP?” hati positifku terus meyakinkan “aku pasti bisa sekolah SMP”.
Aku mau aku mampu, ungkapan ini membuktikannya, aku medapatkan kabar bahwa pak Homidin (tetanggaku) punya sodara yang bekerja di Panti Asuhan. Dengan semangat aku bilang dan memohon restu agar ibu mau mendaftarkan dan mengizinkanku tinggal di Panti Asuhan. Akhirnya ibu mendaftarkanku kepada Pak Homidin agar bisa tinggal di Panti Asuhan Al-Rasyid Subang. Hari  Jumat 10 Juli tahun 2009 aku berangkat ke Panti Asuhan Al-Rasyid diantar Pak Homidin, saat itu ibu tidak memiliki uang sepeserpun, kecuali uangku RP. 100.000 sisa pemberian dari BSM (Bantuan Siswa Miskin). Aku gunakan uang tersebut untuk ongkos perjalanan ke Subang RP.75.000 dan Rp.25.000 lagi untuk bekal selama di Panti Asuhan. Menjelang keberangkatan aku cium tangan dan kaki ibu, saat itu juga aku menangis, aku memohon ridho dan doa terbaik darinya. Saat aku sudah duduk di kursi bus aku fokuskan pandanganku keluar jendela memandang wajah ibu dengan lambaian tangan dan harapan doa terbaik agar kelak dikemudian hari, saat aku kembali ke kampung halaman membawa kesuksesan dan kemanfaatan besar.
Segala sesuatu tergantung kepada niat, kehidupanku di Panti Asuhan Al-Rasyid jauh lebih baik dibandingkan saat aku tinggal di rumah, aku belajar dengan maksimal dan membuktikan janjiku” Jika aku bisa sekolah SMP”. Kelas VII semester 1 dan 2 aku mendapatkan rangking 3 dan 2 dari 30 siswa. Aku sangat bahagia karena sebelumnya selama SD biasanya aku rangking, 19, 18 dan 13 dari 24 siswa. Aku memiliki teman-teman baru dari berbagai daerah di Indonesia (NTT, Lampung, Cianjur, Banten, Bogor, dan Bandung). Meski sering kangen kepada ibu dan adik karena dalam satu tahun aku hanya pulang satu kali saat hari raya Idul Fitri.
 Mentari tenggelam disambut gelapnya malam, kelas VIII semester dua, aku mendapatkan kabar, ayah meninggal dunia. Saat itu aku hanya bisa  menangis dan berusaha menguatkan hati karena aku sedang ujian (tidak bisa izin pulang). Tiba-tiba  Aku teringat Riad, dia sama sekali tidak pernah merasakan kasih sayang ayah dan mungkin wajahnyapun tak ingat, dan sekarang harapan untuk berjumpapun tidak mungkin kecuali di alam mimpi dan di akhirat kelak. Disisi lain aku sangat besyukur karena aku masih bisa merasakan kasih sayang ayah dibandingkan dengan Wawat dan Riad. Semangatku semakin membara dan tekadku semakin kuat, aku berjanji, selesai SMP aku harus melanjutkan ke SMA (Sekolah Menengah Atas), aku harus sukses, aku harus menjadi contoh untuk kedua adiku dan bermanfaat untuk keluarga dan orang banyak.
Tiga tahun sudah aku tinggal di Panti Asuhan Al-Rasyid dan sekarang aku sudah dinyatakan lulus UN (Ujian Nasional) dengan nilai yang membanggakan. Bu Ina (pengurus Panti Asuhan) memanggilku,“Nas, Ini ada telepon dari ibu kamu”.  Aku mengangkat telepon tersebut dan berbincang banyak dengan ibu sambil mengatakan kebahagianku sudah lulus UN dengan nilai yang membanggakan. Hampir satu jam aku berbincang dengan ibu, ternyata ibu menyuruhku  keluar dari Panti Asuhan Al-rasyid agar aku bekerja di konveksi milik bibi. Aku sangat sedih mendengar kabar ini, tapi bagaimana lagi? Ini perintah ibu dan memang sudah saatnya aku membantu ibu untuk membiayai ke dua adiku.
Tanggal 5 Mei 2012 aku resmi keluar dari Panti Asuhan Al-Rasyid. Dengan muka bahagiaaku membeli buah-buahan dan keripik pisang oleh-oleh untuk ibu, Wawat dan Riad dan aku ingin cepat-cepat berjumpa dengan mereka. Sudah 3 minggu aku tinggal di rumah tapi perasaanku tidak enak dan batinku semakin menuntutku agar melanjutkan sekolah ke SMA, aku tidak mau bekerja yang ada dalam pikiranku,”Aku harus sekolah sampai SMA”. Aku coba katakan perasaanku kepada ibu, ternyata ibu tak mengizinkanku karena tidak mumpunyai biaya. Aku coba menghubungi pengurus di Panti Asuhan Al-Rasyid “semoga saja aku bisa diterima lagi di sana” ternyata jawabannya “Anas, kamu tidak bisa  diterima sebagai anak asuh di Panti Asuhan Al-rasyid, karena keluarga kamu sebelumnya yang meminta keluar”. Mendengar jawaban ini aku sangat terpukul, hanya keyakinanku kepada Allah dalam doa sepertiga malam dan duhaku agar Allah memberikanku rizki, aku bisa sekolah SMA. Yang kedua kalinya aku yakinkan dan katakan kepada ibu, “aku ingin sekolah SMA” Ibu tidak merespon banyak. Dengan nada marah dan air mata membasahi pipi aku memaksa dan mengancam ibu “ibu saya ingin sekolah SMA, kalau ibu tetap memaksaku untuk kerja dan dan tidak mengizinkanku sekolah SMA, aku akan kabur dari rumah dan ibu mohon jangan cari dan anggap aku anak” aku ungkapkan kata-kata itu secara tidak sadar karena sangat besarnya keinginanku untuk sekolah SMA. Ibu memeluku sambil menagis. Keesokan harinya aku dan ibu mencari informasi seputar Panti Asuhan di Tasikmalaya. Aku mendapatkan informasi, di Tasikmalaya ada Panti Asuhan Taman Harapan dan reputasinya lumayan baik. Tanggal 17 Mei 2012 aku mendaftar  ke Panti Asuhan Taman Harapan,  hasil yang aku dapatkan sangat menyedihkan aku tidak diterima karena di Panti Asuhan tersebut hanya menerima Anak SD dan SMP. Setiap kali melihat anak tetangga yang sekolah SMA aku sangat iri dan ingin sekali aku seperti dia bisa sekolah SMA.  Aku buatkan puisi dan aku tuliskan di buku harian “Aku ingin sekolah SMA”.
Apa yang aku pikirkan berbanding lurus dengan sesuatu yang Allah berikan.  Alhamdulillah aku mendapatkan informasi,  di Kecamatan Cisarua, Kab. Bandung Barat terdapat Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Dhuafa. Aku mencoba daftar dengan  menghubungi no HP pengurus Ponpes Yatim Piatu dan Dhuafa  Darul Inayah. Alhamdulillah dengan izin Allah aku diterima dan disuruh secepatnya  berangkat ke Ponpes Yatim Piatu dan Dhuafa Darul Inayah. Hari Jum’at 30 Juni 2012 aku berangkat ke Pondok Pesantren yatim piatu dan Dhuafa Darul Inayah. Aku niatkan untuk sekolah sebaik-baiknya dan menaati peraturan Ponpes Yatim Piatu dan Dhuafa Darul Inayah. banyak perubahan yang terjadi kepadaku selama tinggal di Ponpes Yatim Piatu dan Dhuafa Darul Inayah dengan peraturan yang sangat jauh berbeda ketika aku tinggal di Panti Asuhan Al-Rasyid. Harus bangun jam 3:25 WIB, piket masak nasi, sholat tahajud, sholat duha, hapalan Qur’an, berkebun, sekolah, hapalan amaliah ibadah, ngaji kitab kuning dan aku baru bisa tidur  jam 22:10 WIB.
Bahagia, semangat,sedih, dan  kecewa merupakan makananku selama di Ponpes Yatim Piatu dan Dhuafa Darul Inayah. Saat pembagian rapot merupakan momen yang sangat di tunggu-tunggu, Alhamdulillah kelas X semester I dan semester II aku mendapatkan rangking II dan rangking I, aku sangat bersyukur karena kualitas diriku meningkat dari sebelumnya, meski kesedihan sering menghampiri saat melihat teman-temanku ketika pengambilan rapot mereka selalu ditemani orang tuanya.
Seringkali aku meminta kepada Allah agar suatu saat nanti ketika aku meraih kesuksesan yang aku inginkan ibuku ada dihadapanku. Untuk menutupi kebutuhan dan uang jajan aku biasa jualan  gorengan milik tetangga, dijajakan kepada seluruh santri dengan mendapatkan upah sekali jualan 4000-7000. Ketika pulang libur tengah semester karena tidak memiliki uang aku biasa numpang mobil truk pengantar arang batok kelapa (milik tetangga) dari Bandung sampai ke Tasikmalaya begitupun sebaliknya ketika aku kembali ke Pondok. Walaupun sangat banyak ujian dan kekurangan finansial selama tinggal di Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Dhuafa Darul Inayah aku sangat bahagia dan bersemangat, karena aku mumpunyai cita-cita besar. Ketika aku masih kelas X ada beberapa orang kaka kelas yang lulus SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) di berbagai PTN di Indonesia. Saat  kelas X semester II aku sangat termotivasi, aku yakinkan dan katakan kepada Allah di setiap sepertiga malamku agar Allah meluluskanku dalam SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri)  tahun 2015 di Universitas Gadjah Mada Jurusan Ilmu sejarah dengan mendapatkan beasiswa Bidikmisi.
Aku katakan dan aku yakinkan kaepada orang-orang “ Tahun 2015 aku Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Jurusan Ilmu Sejarah dengan mendapatkan Beasiswa Bidikmisi” dan aku mohonkan disetiap sujudku agar Allah Swt mengabulkannya. Aku belajar semaksimal yang aku bisa, aku bikinkan puisi dengan judul “UGM Kampusku”, aku bikinkan kata-kata semangat seputar UGM dan aku tempel di dinding Kobong (Asrama santri). Hidup adalah tantangan yang harus dihadapi, dibalik semangat dan cita-cita kuatku tidak sedikit teman-teman yang mencaci dan memberikan keyakinan negatrif, bahwa cita-citaku kuliah di UGM merupakan ekspektasi  tidak mungkin. Aku tidak menyerah, aku terus menyemangati diri serta semakin aku tunjukan keinginanku untuk kuliah di UGM dengan mengikuti berbagai perlombaan agar aku mumpunyai banyak pretasi. Tahun 2015 aku mengkuti lomba baca puisi alhamdulillah aku mendapatkan juara II sebagai pembaca puisi terbaik se-kabupaten Bandung Barat tiungkat remaja dan Juara III sebagai pembaca puisi terbaik dalam acara Al-kautsar Festival Islami tahun 2015.
Waktu membawaku tanpa sadar aku sudah kelas XII MA (Madrasah Aliah). Dengan semangat aku mendaftar SNMPTN. Pilihan pertma karena usulan dari guru BP, aku menganmbil Jurusan Ilmu Hukum UGM, Pilihan ke-2 Jurusan  Ilmu Sejarah UGM dan Pilihan ke-3 Jurusan  Pendidikan Sejarah UPI. Selesai melakukan pendaftaran aku merasa lega dan tawakal kepada Allah semoga Allah meluluskanku. Satu bulan sudah dari waktu melakukan pendaftaran dan saatnya hasil SNMPTN akan diumumkan, hasil yang aku dapatkan ternyata belum saatnya aku menjadi mahasiswa UGM. Aku sempat sedih dan patah semangat tapi aku yakinkan bahwa aku masih punya jalan lewat SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan aku ingat janji Allah “Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan, sungguh setelah kesulitan ada kemudahan”.
Dengan harapan baik dan ucapan penuh doa aku mendaftar SBMPTN dengan kembali kepada niat awal untuk mengambil jurusan Ilmu Sejarah. Pilihan ke-1 Jurusan Ilmu Sejarah UGM, Pilihan Ke-2 Jurusan Ilmu Sejarah UNS dan Pilihan Ke-3 Jurusan Ilmu Sejarah UNPAD. Saat hari-hari melakukan tes aku awali dengan shalat duha dan tak lupa sambil mengerjakan tugas aku mohonkan kemudahan dari Allah “Allahuma Yassir Walatu’assir” Ya Allah Permudahkanlah Urusanku Jangan Engkau Persulit. Selesai melakukan tes, selama satu bulan penantian aku pusatkan pikiran untuk tawakal kepada Allah SWT. Sesuai dengan janjinya “Apabila kamu sudah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah”.
Satu bulan akan segera berlalu dan aku sangat ingin ketika pengumuman SBMPTN aku disaksikan oleh ibu, karena selama enam tahun aku menuntut ilmu ibu belum tahu tempatku dan momen pengumuman SBMPTN merupakan momen berharga dan antara bukti sukses atau gagal selama enam tahun perjuanganku menuntut ilmu dan jauh dari ibu. Alhamdulillah ibu memenuhi keinginanku dia akan datang ke pondok menyaksikanku menerima hasil tes SBMPTN. Agar  bisa pergi ke Bandung ibu meminjam uang Rp.300.000 dari tetanngga. Tanggal 9 Juli 2015 ibu sudah ada di Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Dhuafa Darul Inayah.  Dan selesai shalat isya secara berjamaah (bersama-sama) disakasikan seluruh santri pengumuman SBMPTN akan dibuka. Saat itu jumlah santri Pondok Pesantren Yatim Piatu dan Dhuafa Darul Inayah yang mendaftar SBMPTN sebanyak 22 orang dan semuanya dibuka secara berjamaan dengan selembar kertas yang sebelumnya sudah di printkan oleh pengurus pondok secara rahasia. Karena meliputi pendaftaran dan lembar pormulir SBMPTN begitu beres tes aku dan rekan-rekan tidak diperbolehkan untuk memegangnya, karena semuanya sudah diurusi oleh pengurus pondok.
Suasana aula dipenuhi dengan aroma wajah penuh harapan, sederet santri putra dan santri putri menyaksikan aku dan teman-teman yang berada ditengah-tengah mereka. Sebelum lembar kertas dibagikan satu-persatu terlebih dahulu pimpinan pondok memberikan wejangan dan berdoa agar kami diberikan keiklasan dan percaya kepada takdir Allah. Lembaran demi lembaran kertas sudah hampir habis dibagikan kepada 22 orang santri peserta SBMPTN, dengan komando keras diawali dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim agar kertas yang sudah di pegang dibuka dan yang dinyataakan lolos dipersilahkan untuk sujud sukur. Aku berdoa berdasarkan doa yang biasa aku panjatkan, aku pandangi wajah ibu, aku ikhlaskan diri, aku lihat teman-teman dan belum ada satu oarangpun  yang sujud syukur. Aku ucapkan Bismillahirahmanirrahim, aku beranikan diri untuk membuka kertas dan aku baca dengan teliti tulisan yang ada dikertas dan Alhamdulillah “SELAM ANDA LULUS DI JURUSAN ILMU SEJARAH UNIVERSITAS PADJADJARAN” aku menangis mengeluarkan air mata bahagia, aku peluk ibu, aku bersujud dipangkuannya dan aku sangat bersyukur dan ini merupakan kasih sayangi Allah Swt buah dari perjuangan dan kesabaran.
Mencoba belum tentu menjamin keberhasilan kalau tidak mencoba sudah pasti menjamin kegagalan. Perinsip keyakinan dapat mengalahkan segalanya adalah senjata sukses yang mampu dan yakin akan kekuatan Allah, kemampuan diri sendiri dan kebermanfatan untuk orang banyak. Aku hanya bisa memilih dan Allah Swt yang menetapkan. Keinginanku kuliah di UGM buah dari kerja keras, berdoa, dan berkeyakinan positif Allah menetapkanku di universitas yang terbaik untuknya dan pastinya untuku. Alhamdulillah kemudahan demi kemudahan aku temukan di Universitas Padjadjaran. Mendapatkan Beasiswa Bidikmisi, Juara II Debat antar angkatan Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran, Juara II Lomba Baca Puisi Minangkata FIB UNPAD ke-58, 6 Besar Terbaik Duta Wisata dan Budaya/Mojang Jajaka Kab.Tasikmalaya 2016, lolos 32 esai terbaik dari 114 Peserta Esai Nasional “Perlindungan Bangsa Terhadap Kekerasan Seksual Pada Perempuan” di Universitas Negeri Padang, dan Mewakili Universitas Padjadjaran dalam Lomba Debat Nasional “Eksistensi Perempuan di Era Globalisasi” di Universitas Negeri Padang.
Hidup adalah perjuangan yang harus dimenangkan, selalu ada tantangan yang harus dihadapi. Saat kesusahan menerpaku, saat itulah Allah  mewariskan semangat, pantang menyerah, kerja keras, dan berani menjadi yang berbeda. Mengalahkan rasa takut kunci utama. Bukan kekurangan finansial yang menjerumuskan pada kegagalan, justru alasan-alasan yang harus di hindarkan. Salam sukses dan semangat dariku (Anas Anwar Nasirin) berbekal pesan Anthonio Robbins, “Jangan Pernah takut membentuk citya-cita. Kita Bisa! Kita sangat Powerfull! Tidak ada yang tidak mungkin jika kita memiliki tekad dan keberanian. Buatlah mimpi yang besar dan bergeraklah dari sekarang!!!”.

                                    BIODATA NARASI
Nama saya Anas Anwar Nasirin saat ini saya merupakan mahasiswa semester 4 Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran. Saya lahir di Tasikmalaya pada  25 April 1997, Hobi saya membaca dan menulis. Merupakan suatu kebanggaan dan anugrah besar bagi saya, biasa menjadi dan bersetatus Mahasiswa. Tentunya merupakan sesuatu yang tidak mungkin bagi seorang anak kampung yang selama pendidikannya di habiskan di panti asuhan untuk menjadi dan bersetatus mahasiswa. Tapi kuasa Allah diatas segalanya, berbekal semangat, tekad yang kuat dan berkeyakinan akan cinta kasih Allah dan harapan baik dari Allah, Alhamdulillah cita-cita menjadi sebagai seorang mahasiswa kini sudah menjadi nyata.
Masa kecil, saya habiskan di kampung Cimuncar, Desa Cibeber, Kecamatan Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya. Sejak tahun 2005 saya dan kedua adik sudah ditinggalkan oleh ayah karena menderita gangguan jiwa. Tahun 2009 karena saya tidak mumpunyai biaya untuk melanjutkan studi ke tingkat SLTP saya hijrah ke Panti Asuhan Al-Rasyid dan sekolah Di MTs Al-Hajar Subanng. Dan paada tahun 2010 ayah saya dikabarkan meinggal dunia, Tahun 2012 karena faktor keluarga dan ekonomi saya memutuskan keluar dari Panti Asuhan Al-Rasyid.
Berbekal semangat setelah melalui berbagai rintangan keinginan saya untuk melanjutkan studi ke tingkat SLTA semakin kuat. Tanggal 30 Juni 2012 saya resmi menjadi santri Pondok Pesantren yatim Piatu dan Dhuafa Darul Inayah Cisarua Lembang. Dari sinilah saya mengukir mimpi, menauhkan harapan dan impian besar hingga sampai saat ini bersetatus sebagai seorang mahasiswa.
Tuhan yang maha baik tak akan mengecewakan hamban-nya, jika dia mengizinkan kita untuk memikirkan hal-hal besar, maka diapun akan mengizinkan kita untuk melakukan dan mendapatkannya. Adapun motto hidup saya Keyakinan Dapat Mengalahkan Segalanya. Yakin akan kasih sayang dan kebesaran Tuhan, yakin akan kemampuan dan potensi diri dan yakin akan kemanfaatan besar terhadap sesama manusia.
Saat ini selian berkuliah saya juga aktif di Korp Protokoler Mahasiswa (KPM) UNPAD, Mojang Jajaka Kab. Tasikmalaya, Stap HRD dan announcer Radio Unpad dan sebagai anggota Gelanggang Seni Sastra Teater Tari dan Film (GSSTF) UNPAD.  Adapun prestasi yang sudah diraih Juara II Debat antar angkatan Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran, Juara II Lomba Baca Puisi Minangkata FIB UNPAD ke-58, 6 Besar Terbaik Duta Wisata dan Budaya/Mojang Jajaka Kab.Tasikmalaya 2016, lolos 32 esai terbaik dari 114 Peserta Esai Nasional “Perlindungan Bangsa Terhadap Kekerasan seksual Pada Perempuan” di Universitas Negeri Padang, dan Mewakili Universitas Padjadjaran dalam Lomba Debat Nasional “Eksistensi Perempuan di Era Globalisasi” di Universitas Negeri Padang.
                                            TERIMAKASIH
         KEYAKINAN DAPAT MENGALAHKAN SEGALANYA

Download file pdf Disini